Suami harus memperlakukan istrinya sebagai seorang wanita dan istri harus memperlakukan suaminya sebagai seorang pria. Memperlakukan mereka harus memperhatikan sisi perbedaan dan kebutuhan jasmani dan rohani mereka. Perlakukanlah mereka sebagaimana harusnya.
Perbedaan ini tentu bisa kita lihat pada kebutuhan makan, kebutuhan psikologis, cara komunikasi, cara mengambill keputusan, cara mempertimbangkan sesuatu, cara memancang sesuatu, kondisi lemah mereka, kondisi emosi mereka, hobi dan kesukaannya.
Secara garis besar kebutuhan Pria itu: pengambil keputusan, dipercaya, tidak direndahkan, dan dituruti. Kepribadian mereka lebih kuat, emosi mereka lebih stabil, pertimbangan mereka pun lebih matang. Sedangkan kebutuhan Wanita itu ingin dihargai, disayangi, dilindungi, difahami, diperhatikan, diperlakukan dengan indah. Emosi mereka yang jelas lebih dominan, sensitif dan mudah labil.
Mengapa hal ini perlu kita bahas. Tentu ada alasan kuat dibelakangnya. Menurut syaikh Abdurahman bin Abdullah AL Qar’awi banyak problem rumah tangga muncul kerena kelalaian terhadap perkara ini (perbedaan memperlakukan pasangan), seorang istri memperlakukan suaminya seolah olah dia adalah salah seorang teman wanitanya.
Maka seorang suami harus benar-benar mengetahui bagaimana memperlakukan istri mereka agar mereka bisa bahagia dan menjadi makmum yang baik untuknya. Begitu pula seorang istri, mereka harus memperhatikan bagaimana memperlakukan imam mereka seperti seharusnya.
Yang terpenting harus difahami bagi seorang suami adalah sabda Rasulullah ﷺ:
“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)
Mereka perlu perlakuan yang lembut dan cara yang indah. Seorang lelaki tidak akan bisa bersama seorang wanita kecuali dengan sabar.
Berikanah kesadaran kepada mereka, bahwa mereka para istri haruslah punya keinginan untuk dibimbing oleh suami mereka dan kepasrahan sebagai seorang makmum.
Ketahuilah, bahwa istri kalian adalah orang yang akan mendampingi kalian seumut hidup. Istri kalian adalah orang yang perhiasan dunia kalian. Bukankah perhiasan itu perlu dijaga? Dan perlu diperlakukan istimewa?
Sebesar apapun hak seorang suami, tetaplah kalian membutuhkan kebahagiaan dalam rumah tangga, dan tidaklah tercipta kebahagiaan kecuali sang istri dan suami sama-sama merasakan kebahagiaan. Kalau bukan dengan pergaulan yang baik maka dengan apa lagi kalian para suami membahagiakan mereka?
Adapun yang terpenting yang harus difahami istri adalah sabda Rasululah ﷺ:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri). (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani)
Rasulullah menyebutkan hak suami yang amat besar. ia bagaikan raja yang harus dihormati, bagaikan seorang ulama yang didengar, dan dan seorang panglima yang harus dipatuhi. Bahkan rasulullah mengibaratkan dengan sesuatu yang lebih dahsyat, dengan sebuah sujud. Sujud yang menggambarkan kepatuhan, ketaatan dan kerendahan diri.
Ketahuilah bagi para istri bahwa hak suami mereka lebih besar dari hak para istri. Surga para istri tergantung ridho sang suami. Suatu saat di hari kiamat kalian pasti akan ditanyakan tentang ketaatan kepada suami kalian.
Kembali ke poin utama, bahwa perlakukanlah seorang suami sebagai seorang lelaki, dan perlakukanlah seorang istri sebagai seorang wanita. ketika ada cara memperlakukan wanita dengan baik maka pasti ada cara memperlakukan lelaki dengan baik.
Oleh Buya Al-Fatih | rujukan dari buku ‘Suami Istri Ala Rumah Mungil Penuh Bahagia’ karya Abdurahman Bin Abdullah Al Qar’awi
Source : Muslimah Gema Islam

0 komentar: